Ketika seseorang melakukan
kesalahan rasanya pengen banget kita buat ingetin kalau yang mereka lakukan
adalah salah. apalagi kalau yang melakukan kesalahan adalah saudara lu sendiri.
apalagi juga saudara lu itu udah pernah bilang kalau dia salah kita harus
ingetin dia supaya dia sadar. tapi kalau gue adalah orang yang ga bisa bilang
dan ingetin bahwa dia salah, gue jadi bingung. di satu sisi gue kasian sama
nyokap dan bokap, tapi gue juga ga bisa berbuat apa-apa. gue ga bisa ngomong ke
saudara gue ini bahwa tindakannya adalah salah dan udah menyakiti hati orang
lain. apalagi yang dia sakitin adalah hati orang tuanya sendiri. entah apa yang
telah membuat abang gue yang satu ini berubah. tindakan yang dia lakukan yang
selama telah menjadi kebanggaan keluarga dan jadi tulang punggung keluarga
mendadak jadi tidak seperti dia yang dahulu. apakah dia mulai capek dengan
tanggungan yang dia pikul selama ini ? apa dia mulai lelah untuk jalani ini
semua ? tapi walaupun benar dia capek dan lelah bahkan hanya butuh waktu untuk
menyendiri dan memanjakan hidupnya, tapi setidaknya dia tidak boleh
menelantarkan orang tuanya yang selama ini telah merawatnya dan membuatnya
sukses seperti sekarang. walaupun dia sukses karena kerja kerasnya dan tegarnya
dia dalam menjalani kehidupan, tapi jangan lupa kalau tanpa doa dan dukungan
orang tua dia tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini. dan ketika sebagai
anggota keluarga yang lain mulai menebak apa yang menjadi alasan dia menjadi
seperi itu, gue paling benci ketika alasan yang terlontar adalah "Biasa,
yang namanya orang Jakarta akan selalu menjadi seperti itu". dan yang
harus dia ketahui adalah bahwa dia bukanlah orang Jakarta. dia adalah orang
Padang dan besar di keluarga yang masih memegang teguh adat. dan di keluarga
kita tidak pernah diajarkan untuk menjadi seperti itu. setau gue juga orang tua
gue ga pernah yang namanya mengajarkan anaknhya untuk menjadi anak yang lupa
kacang akan kulitnya. gue rasa keluarga gue tinggal 4 orang aja. dan gue hanya
punya satu kakak yaitu uni gue. gue merasa kalau gue udah kehilangan abang gue
yang seinget gue dia dulu tidak seperti ini. sungguh tragis sungguh. dan lebih
tragisnya lagi, gue sebagai adik ga bisa lakuin apa-apa. bahkan hanya untuk
sekedar ingetin dia bahwa dia telah salah saja gue ga bisa. gue cuman pengen
hidup gue dan orang tua tidak bergantung lagi padanya. gue buktiin kalau gue
bisa tanggung semuanya dan gue ga butuh bantuan orang lain. sadis emang gue
sebut dia sebagai orang lain, karena emang buat gue dia adalah orang lain dan
bukan siapa-siapa lagi. karena gue udah ga kenal dengan sosoknya kini. dia
sangat berbeda dengan dia yang dulu. dan gue rasa abang gue yang dulu udah
hilang terkikis jaman. terkikis jaman ? hahaha iya benar dia terkikis oleh
jaman dan metropolitan yang menyebabkan dia lupa akan siapa dia sebenarnya.
atau gue bisa sebut dia sebagai seorang yang masih tunduk dibawah perintah
istri ? hahaha iya benar, suami takut istri barangkali.
sudah, sudah cukup puas gue cerita
kepada diri gue sendiri. buat gue cukup hanya gue yang tau dan orang lain tak
perlu tau. biarkan keluarga gue tampak indah dimata orang tanpa orang lain tau
apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. bahagia, ya gue coba buat bahagia
dan jalanin dengan senang hati. pasrah, bukan gue bukan pasrah. gue mencoba
untuk sabar demi keluar dengan selamat dari situasi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar