Minggu, 02 Desember 2012

manusia yang terikis jaman

Ketika seseorang melakukan kesalahan rasanya pengen banget kita buat ingetin kalau yang mereka lakukan adalah salah. apalagi kalau yang melakukan kesalahan adalah saudara lu sendiri. apalagi juga saudara lu itu udah pernah bilang kalau dia salah kita harus ingetin dia supaya dia sadar. tapi kalau gue adalah orang yang ga bisa bilang dan ingetin bahwa dia salah, gue jadi bingung. di satu sisi gue kasian sama nyokap dan bokap, tapi gue juga ga bisa berbuat apa-apa. gue ga bisa ngomong ke saudara gue ini bahwa tindakannya adalah salah dan udah menyakiti hati orang lain. apalagi yang dia sakitin adalah hati orang tuanya sendiri. entah apa yang telah membuat abang gue yang satu ini berubah. tindakan yang dia lakukan yang selama telah menjadi kebanggaan keluarga dan jadi tulang punggung keluarga mendadak jadi tidak seperti dia yang dahulu. apakah dia mulai capek dengan tanggungan yang dia pikul selama ini ? apa dia mulai lelah untuk jalani ini semua ? tapi walaupun benar dia capek dan lelah bahkan hanya butuh waktu untuk menyendiri dan memanjakan hidupnya, tapi setidaknya dia tidak boleh menelantarkan orang tuanya yang selama ini telah merawatnya dan membuatnya sukses seperti sekarang. walaupun dia sukses karena kerja kerasnya dan tegarnya dia dalam menjalani kehidupan, tapi jangan lupa kalau tanpa doa dan dukungan orang tua dia tidak akan bisa menjadi seperti sekarang ini. dan ketika sebagai anggota keluarga yang lain mulai menebak apa yang menjadi alasan dia menjadi seperi itu, gue paling benci ketika alasan yang terlontar adalah "Biasa, yang namanya orang Jakarta akan selalu menjadi seperti itu". dan yang harus dia ketahui adalah bahwa dia bukanlah orang Jakarta. dia adalah orang Padang dan besar di keluarga yang masih memegang teguh adat. dan di keluarga kita tidak pernah diajarkan untuk menjadi seperti itu. setau gue juga orang tua gue ga pernah yang namanya mengajarkan anaknhya untuk menjadi anak yang lupa kacang akan kulitnya. gue rasa keluarga gue tinggal 4 orang aja. dan gue hanya punya satu kakak yaitu uni gue. gue merasa kalau gue udah kehilangan abang gue yang seinget gue dia dulu tidak seperti ini. sungguh tragis sungguh. dan lebih tragisnya lagi, gue sebagai adik ga bisa lakuin apa-apa. bahkan hanya untuk sekedar ingetin dia bahwa dia telah salah saja gue ga bisa. gue cuman pengen hidup gue dan orang tua tidak bergantung lagi padanya. gue buktiin kalau gue bisa tanggung semuanya dan gue ga butuh bantuan orang lain. sadis emang gue sebut dia sebagai orang lain, karena emang buat gue dia adalah orang lain dan bukan siapa-siapa lagi. karena gue udah ga kenal dengan sosoknya kini. dia sangat berbeda dengan dia yang dulu. dan gue rasa abang gue yang dulu udah hilang terkikis jaman. terkikis jaman ? hahaha iya benar dia terkikis oleh jaman dan metropolitan yang menyebabkan dia lupa akan siapa dia sebenarnya. atau gue bisa sebut dia sebagai seorang yang masih tunduk dibawah perintah istri ? hahaha iya benar, suami takut istri barangkali.
sudah, sudah cukup puas gue cerita kepada diri gue sendiri. buat gue cukup hanya gue yang tau dan orang lain tak perlu tau. biarkan keluarga gue tampak indah dimata orang tanpa orang lain tau apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini. bahagia, ya gue coba buat bahagia dan jalanin dengan senang hati. pasrah, bukan gue bukan pasrah. gue mencoba untuk sabar demi keluar dengan selamat dari situasi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar